Thursday, March 10, 2016

Kopi dari 11 Gunung di Jawa Barat Berkumpul di Bandung,,,Berikut Ulasannya


Bandung - Gubernur Ahmad Heryawan membuka festival kopi Jawa Barat. Acara digelar pada 20-22 November di Trans Studio Mall, Bandung.

Menurut Aher, kopi Jawa yang Barat sedang naik daun justru dikenal luas cita rasanya. “Mengapa tidak menggunakan kopi kita, rasanya unggul tidak kalah, harganya bersaing, di saat bersamaan menguntungkan petani,” kata dia.

Dia meminta hotel restoran, cafee, dan warung kopi di willayahnya menyajikan kopi asal Jawa Barat, dengan nama Indikasi Geografis (IG) Java Preanger Coffee. “Ini bagian nasionalisme, cara kita untuk memprotek produk kita terutama di era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean),” kata dia di sela membuka Festival Kopi di Trans Studio Mall, Bandung, Jumat, 20 November 2015. 

Pemerintah Jawa Barat sengaja menggelar Festival Kopi pertama kali ini ini untuk mempromosikan kopi Jawa Barat. Aher beralasan, sejumlah festival internasiohal justru membesarkan nama kopi Jawa Barat, ironisnya di dalam negeri nyaris tidak ada festival kopi. “Sederhana tidak masalah, ini awal mula menyelenggarakan Festival Kopi di negeri sendiri,” kata dia.


Ketua Panitia Festival Kopi Jawa Barat, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Ferry Sofwan Arief mengatakan, sejarah kopi di Indonesia tidak lepas dari Jawa Barat. “Kopi pertama kali ditanam di wilayah priangan tahun 1696 oleh Belanda. Ekspor pertama kopi pada 1711 masuk ke Eropa,” kata dia. Pamor kopi Jawa Barat di Eropa memunculkan istilah meminum kopi dengan sebutan “Cup of Java”.

Ferry menuturkan, beberapa tahun terakhir menjadi kebangkitan kopi Jawa Barat. Sejak 2011, pegiat dan petani kopi Jawa Barat mendaftarkan Indikasi Geografis (IG) kopi yang ditanam di 11 gunung pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM dengan nama Java Preanger Cofee.

Luas perkebunan kopi rakyat terus tumbuh. Tahun ini tercatat, luas tanam kebun kopi menembus 32 ribu hektare denngan produksi 22 ribu ton. “Saat ini 75 persen kopi di Jawa Barat untuk ekspor,” kata Ferry.

Catatannya, sejak 2012 hingga September 2015, eskpor kopi Greenbean yang langsung dilakukan pelaku usaha kopi Jawa Barat menembus 187, 7 ton dengan nilai mencapai 1,37 juta Dollar AS. Sementara ekspor kopi dalam bentuk olahan dalam rentang waktu yang sama menembus 150 ton dengan nilai mencapai 7 juta Dollar AS.

Ferry mengatakan, Festival Kopi juga sengaja dipilih untuk menangkap tren saat ini, yakni minum kopi di cafe. “Kami mengumpulkan 40 pelaku usaha kopi di Jawa Barat. Kami beli kopinya dan diberikan pada 18 cafe di sini untuk disajikan dalam festival ini,” kata dia.

Festival Kopi itu menampilkan sajian kopi Java Preanger Cofee yang berasal dari 11 gunung di Jawa Barat. Selain menyajikan kopi gratis, festval itu juga menggelar Worksop, hingga lomba menyeduh kopi.

Kepala Dinas Perkebunan Jawa Barat Arief Santosa mengatakan, saat ini instansinya juga mendorong semua pengguna kopi Jawa Barat menampilkan kode Indikasi Geografis, Java Preanger Cofee dalam kemasannya. “Dengan mencantumkan Indikasi Geografis itu orang tidak bisa memanipulasi bahwa itu kopi Java Preanger,” kata dia di acara itu, Jumat, 20 November 2015.

Arief mengatakan, kopi yang berasal dari 11 gunung di Jawa Barat yang telah didaftarkan pada Direktorat Jenderal HKI untuk mendapat pengakuan Indikasi Geografis, Java Preanger Coffee. Diantaranya asal Gunugn Manglayang, Tangkubanparahu, serta Cikuray. “Khususnya yang masuk kategori Special Tea Coffee,” kata dia.

Menurut Arief, Dirjen HKI sudah menerbitkan Indikasi Geografis Java Preanger Cofee sejak 2013 lalu. Saat ini prosesnya masih berlangsung. “Kemarin baru selesai di re-assessment, di cek lagi. Belum ada pengumuman, tapi kemungkinan lolos,” kata dia. Pendaftaran IG itu dilakukan oleh Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis yang anggotanya petani dan praktisi kopi.

(Sumber : m.tempo.co)